Dalam mengupas teori maupun membahas tentang kepemimpinan, seringkali menemui benturan antara sisi ideal dengan realitas yang ada, entah mengapa seolah-olah teori yang ada tidak pernah cocok dengan data dan fakta, sehingga banyak kalangan menyebutkan bahwa teori kepemimpinan hanya omong kosong atau nilai yang utopis. Akan tetapi, lain halnya dengan nilai-nilai Islam yang diajarkan dan diaplikasikan sehari-hari, yaitu kepemimpinan seorang imam saat sholat berjamaah.
Berdasarkan analisis sederhana, ada beberapa contoh yang dapat dilihat dalam praktik sholat berjamaah yang mencerminkan kepemimpinan yang luar biasa, dibagi kedalam dua bagian penting, yaitu pada saat pemilihannya dan proses berjalanya kepemimpinan tersebut. Dalam konteks pemilihannya: Pertama, dalam pemilihan dan penetapan seorang imam di masjid harus berdasarkan kualifikasi yang baik, imam dipilih dari kalangan mereka yang lebih memahami al-Qur’an, berilmu tinggi, dan berakhlak baik yang mendapatkan ‘pengakuan’ publik bukan ‘mengaku-ngaku’ sehingga akan tercipta kesadaran diri setiap orang. Kedua, Pemilihan Imam dilakukan berdasarkan keikhlasan dan kesiapan, apabila seseorang itu telah siap maka ia akan memangku jabatan pemimpin tersebut dengan ikhlas, begitu pun yang memang tidak siap, ia akan ikhlas menerima kepemimpinan orang lain dan siap menjadi makmumnya.
Dalam konteks proses berjalannya: Pertama, setiap makmum akan melakukan apa yang diperintahkan oleh imamnya sepanjang imam tersebut menjalankan amanah sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, ketika imam sujud maka makmum pun akan bersujud, ketika imam ruku maka makmum pun akan mengikutinya. Kedua, dalam sholat berjamah seorang imam terbiasa dengan budaya mengundurkan diri ketika ia melakukan kesalahan, dapat dilihat ketika seorang imam melakukan perbuatan yang membatalkan sholat baik disengaja maupun tidak, dengan sendirinya ia akan keluar dari barisan, akan tetapi sholat berjamaah tetap berlanjut dengan imam pengganti. Kira-kira begitulah Islam membuat konsep kepemimpinan yang sederhana, belum lagi apabila kita berbicara kepemimpinan ala kekhalifahan. Ternyata betapa indah dan luar biasanya konsep yang dibangun dalam kepemimpinan seorang Imam sholat berjamaah, dan syukur Alhamdulillah konsep ini masih berjalan sesuai dengan nilai idealnya.
Ketika terdapat seorang pemimpin mendapatkan jabatannya dengan cara yang kotor, tidak mendapat pengakuan publik atau tidak dapat memberi contoh yang baik, atau banyak melakukan kesalahan, tetapi tidak juga mengundurkan diri bahkan cenderung tidak tahu diri, seharusnya rakyat menggantinya untuk membuat barisan baru agar sholat berjamaahnya tetap diterima oleh Tuhan. Seandainya seperti sholat berjamaah……
Rio Pramasta
Berdasarkan analisis sederhana, ada beberapa contoh yang dapat dilihat dalam praktik sholat berjamaah yang mencerminkan kepemimpinan yang luar biasa, dibagi kedalam dua bagian penting, yaitu pada saat pemilihannya dan proses berjalanya kepemimpinan tersebut. Dalam konteks pemilihannya: Pertama, dalam pemilihan dan penetapan seorang imam di masjid harus berdasarkan kualifikasi yang baik, imam dipilih dari kalangan mereka yang lebih memahami al-Qur’an, berilmu tinggi, dan berakhlak baik yang mendapatkan ‘pengakuan’ publik bukan ‘mengaku-ngaku’ sehingga akan tercipta kesadaran diri setiap orang. Kedua, Pemilihan Imam dilakukan berdasarkan keikhlasan dan kesiapan, apabila seseorang itu telah siap maka ia akan memangku jabatan pemimpin tersebut dengan ikhlas, begitu pun yang memang tidak siap, ia akan ikhlas menerima kepemimpinan orang lain dan siap menjadi makmumnya.
Dalam konteks proses berjalannya: Pertama, setiap makmum akan melakukan apa yang diperintahkan oleh imamnya sepanjang imam tersebut menjalankan amanah sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, ketika imam sujud maka makmum pun akan bersujud, ketika imam ruku maka makmum pun akan mengikutinya. Kedua, dalam sholat berjamah seorang imam terbiasa dengan budaya mengundurkan diri ketika ia melakukan kesalahan, dapat dilihat ketika seorang imam melakukan perbuatan yang membatalkan sholat baik disengaja maupun tidak, dengan sendirinya ia akan keluar dari barisan, akan tetapi sholat berjamaah tetap berlanjut dengan imam pengganti. Kira-kira begitulah Islam membuat konsep kepemimpinan yang sederhana, belum lagi apabila kita berbicara kepemimpinan ala kekhalifahan. Ternyata betapa indah dan luar biasanya konsep yang dibangun dalam kepemimpinan seorang Imam sholat berjamaah, dan syukur Alhamdulillah konsep ini masih berjalan sesuai dengan nilai idealnya.
Ketika terdapat seorang pemimpin mendapatkan jabatannya dengan cara yang kotor, tidak mendapat pengakuan publik atau tidak dapat memberi contoh yang baik, atau banyak melakukan kesalahan, tetapi tidak juga mengundurkan diri bahkan cenderung tidak tahu diri, seharusnya rakyat menggantinya untuk membuat barisan baru agar sholat berjamaahnya tetap diterima oleh Tuhan. Seandainya seperti sholat berjamaah……
Rio Pramasta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar